BEM MALAHAYATI: KAMPUS HARUS JADI BENTENG INTELLEKTUAL LAWAN RADIKALISME DAN TERORISME

oleh -12 Dilihat
banner 468x60

BANDAR LAMPUNG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malahayati Lampung menggelar diskusi publik yang menggugah pada Selasa (28/01/2026) di Aula MCC Kampusnya, dengan fokus mengangkat urgensi peran perguruan tinggi sebagai benteng ideologi bangsa dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme.

Acara yang dihadiri sekitar 100 peserta dari Aliansi BEM se-Provinsi Lampung dan Pok Cipayung Plus Kota Bandar Lampung menghadirkan narasumber berpengaruh: Ketua FKUB Provinsi Lampung Prof. Dr. H. Moh. Baharuddin, M.A., Perwakilan Kanwil Kemenag Lampung Mirza Pahlevi, Kasat Intel Polresta Bandar Lampung Kompol Andi Yunara, serta Sulthon Arifudin dari Yayasan Mangkubumi Putra Lampung.

banner 336x280

“MAHASISWA JADI SASARAN, KAMPUS HARUS BERANI BERGERAK”

Sulthon Arifudin menyoroti bahwa radikalisme tumbuh dari pola pikir yang kaku dan menolak perbedaan – dan mahasiswa sebagai generasi muda yang sedang mencari jati diri justru menjadi target utama.

“Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Jika mereka terjebak radikalisme, masa depan bangsa langsung terancam. Kampus harus jadi ruang aman yang menanamkan toleransi, literasi digital canggih, dan semangat kebangsaan yang kokoh,” tegasnya.

MODERASI BERAGAMA & DIGITAL LITERACY JADI KUNCI,
Prof. Baharuddin menekankan pentingnya sinergi antara kebebasan beragama dan toleransi. Menurutnya, intoleransi dan fanatisme sempit adalah pintu gerbang bagi ideologi ekstrem.

“Moderasi beragama, dialog lintas iman, dan penegakan hukum yang adil bukan hanya pilihan – tapi keharusan untuk membendung radikalisme,” ujarnya.

Sementara itu, Mirza Pahlevi dari Kanwil Kemenag mengingatkan bahwa era digital membuat narasi ekstrem mudah menyebar. Ia mendorong penguatan nilai Pancasila dan NKRI sebagai “filter” agar mahasiswa tidak terjebak dalam informasi salah arah.

DATA NYATA: PULUHAN INDIVIDU TERKAIT RADIKAL DI BANDAR LAMPUNG
Dari sisi keamanan, Kompol Andi Yunara mengungkapkan fakta yang tidak bisa disepelekan – wilayah Bandar Lampung mencatat puluhan individu yang masuk dalam pengawasan terkait jaringan radikal dan terorisme.

“Kelompok ekstrem bekerja secara cerdas: mulai dari kajian tertutup, pendekatan personal, hingga propaganda digital yang mengarah pada radikalisasi. Kampus harus punya sistem deteksi dini yang tanggap dan regulasi yang tidak kompromi,” jelasnya.

VISI: KAMPUS SEBAGAI CENTER OF EXCELLENCE IDEOLOGI
Melalui diskusi ini, BEM Universitas Malahayati menegaskan bahwa kampus tidak cukup hanya jadi tempat mencari gelar. Lebih dari itu, harus menjadi bastion intellectual yang membangun generasi muda dengan landasan nilai toleransi, moderasi beragama, dan cinta tanah air yang tak tergoyahkan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.