Kakao Lampung Timur Bangkit: “Satu Hektare Terasa Tiga”, Harapan Baru Petani di Tengah Tantangan Keamanan

oleh -30 Dilihat
banner 468x60

Lampung Timur – Kakao kembali menunjukkan potensinya sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Lampung Timur. Dengan sistem tanam tumpang sari, satu hektare kebun kakao bahkan disebut mampu memberikan manfaat setara tiga hektare lahan produktif.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus, menyebut kakao bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan sistem pertanian terpadu yang menopang ekonomi petani dari berbagai lapisan.

banner 336x280

“Menanam kakao itu satu hektare terasa tiga hektare. Lapisan bawah bisa talas atau umbi, tengah kakao, dan atas bisa kelapa atau alpukat. Panennya berlapis,” ujar Japung, Selasa (3/2/2026).

Konsep tersebut dinilai menjadi solusi di tengah keterbatasan lahan dan fluktuasi harga komoditas. Namun, perjalanan kakao di Lampung Timur tidak selalu mulus.

Sempat Terpuruk, Kini Mulai Bangkit

Japung mengungkapkan, sektor kakao sempat mengalami kemunduran serius pada periode 2010–2012 akibat serangan hama busuk buah. Saat itu, banyak petani memilih menebang tanaman dan beralih ke komoditas lain.

“Kondisinya waktu itu cukup parah. Banyak kebun kakao ditinggalkan,” katanya.

Kebangkitan mulai terasa sejak 2025, seiring masuknya perusahaan offtaker seperti PT Papandayan dan Olam, yang membawa klon kakao lebih tahan hama serta program pendampingan intensif. Pemerintah Kabupaten Lampung Timur juga turut terlibat dalam upaya pemulihan sektor ini.

“Pendampingan dari offtaker dan dukungan Pemkab menjadi faktor penting kebangkitan kakao,” jelas Japung.

Selain itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (NGO) ikut memperkuat ekosistem kakao, terutama dalam peningkatan kapasitas petani di bidang budidaya dan pascapanen.

Harga Rendah Akibat Masalah Keamanan

Meski tren kebangkitan mulai terlihat, tantangan besar masih membayangi petani kakao, terutama persoalan keamanan kebun.

Maraknya pencurian membuat petani kerap memanen buah sebelum matang sempurna. Akibatnya, kakao dijual dalam kondisi basah dengan kualitas rendah.

“Petani takut keduluan orang. Akhirnya petik muda, dijual basah. Harganya jatuh,” ungkap Japung.

Saat ini, harga kakao basah di tingkat petani masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Angka tersebut dinilai jauh dari potensi maksimal.

Menurut Japung, kakao yang dipanen matang dan difermentasi dengan baik berpeluang masuk segmen premium dengan nilai jual lebih tinggi.

“Kalau aman, kualitas naik, harga juga ikut naik,” ujarnya.

Menuju Kakao Premium dan Industri Hilir

Untuk meningkatkan daya saing, APiK bersama Pemkab Lampung Timur tengah menjajaki kerja sama dengan mitra dari Bandung dalam pengembangan kakao premium.

Program tersebut mencakup pelatihan teknis, penyediaan alat fermentasi, serta penggunaan solar dryer untuk proses pengeringan.

“Kami fokus perbaikan dari hulu sampai pascapanen. Kalau sudah kuat, targetnya bisa produksi cokelat sendiri,” kata Japung.

Pengembangan industri hilir dinilai penting agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan biji mentah, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari produk olahan.

Penguatan Kelompok Jadi Kunci

Di sisi lain, Japung menegaskan bahwa keberhasilan kakao Lampung Timur tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan pasar, tetapi juga oleh kelembagaan petani.

Ia menilai, petani yang tergabung dalam kelompok lebih mudah mengakses pelatihan, menjaga kualitas, hingga membangun sistem keamanan bersama.

“Kalau berkelompok, bisa belajar bareng, sambung sisip, sampai ronda kebun. Ini kunci agar kakao benar-benar bangkit,” tegasnya.

Harapan dan Catatan ke Depan

Kebangkitan kakao Lampung Timur membuka peluang besar bagi peningkatan kesejahteraan petani. Namun, tanpa perbaikan sistem keamanan, penguatan kelembagaan, serta kesinambungan pendampingan, potensi tersebut berisiko kembali stagnan.

Pemerintah daerah, offtaker, dan petani kini dituntut menjaga konsistensi kolaborasi agar kakao Lampung Timur tidak hanya bangkit sesaat, tetapi mampu menjadi fondasi ekonomi daerah dalam jangka panjang.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.